Blunder Kapolri Soal Korban Pemerkosaan Dikecam Aktivis Perempuan

Pagipagi.online - Ucapan Kapolri soal pemerkosaan mendapat kecaman dari perempuan Indonesia. Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan dalam kasus pemerkosaan, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama pemerkosaan merasa nyaman.

“Pertanyaaan seperti itu yang biasanya ditanyakan oleh penyidik sewaktu dalam pemeriksaan, untuk memastikan, apakah benar korban diperkosa atau hanya mengaku diperkosa, untuk alasan tertentu,” jelas Tito seperti dilansir republikin.com (20/10/2017)

Baca juga: Karena Pernyataannya ini, KAPOLRI Menuai Kritik

Berikut pernyataan Pers MPI atas ucapan Kapolri tentang pemerkosaan tersebut seperti dilansir radarnusa.com (Radio Swara Kebangsaan).

Maju Perempuan Indonesia (MPI), sebuah gerakan pemenuhan, pemajuan dan perlindungan hak-hak perempuan di politik dan terdiri atas perempuan aktivis CSO, jurnalis, akademisi, professional, anggota parlemen lintas fraksi dan politisi lintas partai politik:
1. Mengkritik keras pernyataan Kapolri Tito Karnavian yang menjelaskan jalannya penyidikan atas kasus pemerkosaan dengan persfektif yang menggambarkan kasus pemerkosaan bila diwarnai dengan perasaan nyaman tidak bisa disebut sebagai pemerkosaan.

2. Dalam pandangan kami seluruh kasus pemerkosaan adalah bentuk penganiyaan terhadap fisik dan psikis manusia yang pastinya tidak ada rasa nyaman, bahkan merupakan penindasan dan penganiayaan yang merupakan pelanggaran HAM.

3. Menilai pernyataan Kapolri bertentangan dengan kampanye agar mereka yang mengalami pemerkosaan berani bicara dan menyeret pelakunya ke pengadilan. Seharusnya Kapolri mengeluarkan pernyataan yang mendorong agar para korban pemerkosaan berani bicara dan berjanji melindungi serta menyeret pelakunya ke meja hijau.

4. Meminta kepada Bapak Kapolri untuk meminta maaf kepada publik atas pernyataannya yang tidak patut tersebut dan berjanji akan mendalami dan memahami kebijakan yang berspektif gender.

5. Kapolri harus memastikan bahwa ucapannya tidak menjadi cara penyidik dalam melakukan proses penyidikan dan penyelidikan kasus perkosaan. Dan membuat mekanisme yang memastikan hal tersebut tidak terjadi dan berulang.

6. Kapolri mengintegrasikan pendidikan HAM dan Gender bagi aparatur Kepolisian sejak awal masa pendidikan Kepolian, bukan hanya kepada Polwan atau Polisi yang bekerja di Unit PPA Kepolsian

Jakarta, 20 Oktober 2017
Maju Perempuan Indonesia (MPI)

Lena Maryana Mukti
Koordinator MPI

Labels: Berita, Nasional, Peristiwa, Wanita

Thanks for reading Blunder Kapolri Soal Korban Pemerkosaan Dikecam Aktivis Perempuan. Please share...!

Back To Top