Astaga...Ada Apa ini !! Khotbah Idul Adha Di Pondok Gede Menyinggung Politik. Nama Jokowi, SBY, Foke Dan Ahok Disebut


Khotbah agama seharusnya berisi tentang pesan moral dan perilaku beragama yang sepatutnya. 

Bagaimana jika tiba-tiba khotbah tersebut berisi tentang perbandingan  pertumbuhan ekonomi antara Jokowi dan SBY?

Hal itulah yang terjadi dengan isi khotbah salat Idul Adha di Pondok Gede, Jakarta Timur. Khotbah yang seharusnya tentang masalah agama menjadi masalah ekonomi. Apakah sang Khatib seorang sarjana ekonomi?

Isi khotbah yang menjadi sorotan itu soal perbandingan laju pertumbuhan ekonomi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jokowi. Laju pertumbuhan, dituliskan dalam isi khotbah, menurun dari angka 6,53% (2012) menjadi 5,11% (2015).

Tak hanya secara nasional, khotbah tersebut juga menyinggung soal jumlah ekspor, serapan pendapatan daerah, dan realisasi anggaran di DKI Jakarta dari zaman Fauzi Bowo (Foke) hingga dipimpin Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Salah satu data yang dipaparkan adalah indeks pertumbuhan pembangunan yang menurun dari 6,73% (2011), 6,11% (2013), hingga 5,11% (2015).

Khotbah itu turut menyinggung kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty). Kebijakan tersebut dinilai telah merugikan masyarakat.  Ada pula pembahasan soal partai Islam di khotbah tersebut. Dalam teks, disebutkan bahwa partai-partai Islam jauh terpuruk dibanding sebelumnya.




Gambar didapat dari twitter milik Muhammad Yusuf Musa

Ini khotbah agama atau politik? Apa hubungan pertumbuhan ekonomi, tax amnesty dan ekspor dengan dosa/pahala? Apa tax amnesty itu melanggar dosa? Apa ekpor turun akan membuat seseorang masuk neraka? Partai Islam yang jelas-jelas ke ranah politik saja disebut.

Khotbah itu disampaikan oleh Khaidir Sulaiman di Masjid Al-Muta’alimin, Pondok Gede. Khaidir menolak bahwa khotbah tersebut disebut berisi muatan politis. Dia juga meminta maaf jika isi khotbah tersebut menyinggung perasaan.

“Tidak politis. Saya bersumpah kepada Allah SWT bahwa tidak berisi politik. Maksud saya hanya memberikan peringatan saja supaya semangat untuk negeri ini dan bangsa,” ujar Khaidir

“Jadi mohon maaf dan mohon disampaikan pada teman-teman yang tidak paham dengan isi khotbah saya. Isi khotbah saya tidak bermuatan politik dan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan dan hanya komparasi saja. Setiap orang kalau diberikan komparasi kan tersentak,” lanjut Khaidir

“Saya sifatnya dakwah saja, bukan bersifat dengan memburuk-burukkan, tidak. Hanya mengingatkan saja pada kita semua, bahwa harapan kita semua negeri ini negeri yang adil dan makmur. Jadi tidak bersifat provokatif, tidak ada niatan untuk memprovokasi,” ucap Khaidir.

Begini ya, sangat tidak wajar kalau sebuah khotbah berisi tentang data ekonomi. Ini acara keagamaan, bukan kuliah ekonomi. Khotbah juga bukan ajang memamerkan data bahwa pemerintahan sekarang lebih buruk dan menyatakan bahwa partai Islam sedang terpuruk.

Kalau khotbahnya begitu kenapa tidak sekalian menjelaskan teori gravitasi disana? Jelas isi khotbah bukan lagi soal agama, tapi soal politik. Sepanjang hidup saya tidak pernah saya dengar ada khotbah yang membicarakan pertumbuhan ekonomi.

Pilpres masih lama yaitu 2019. Pilkada Jakarta baru saja selesai. Kenapa masih ada saja barisan sakit hati yang terus-menerus merendahkan pemimpin yang tidak mau ‘main mata’? Apa ada sebuah tren untuk merendahkan mereka disetiap kesempatan?

Sang Khatib sendiri terus-menerus menepis tuduhan bahwa yang dilakukannya politis. Khaidir mengatakan khotbah yang disampaikan berdasarkan kajian objektif dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Soal statistik, Khaidir menjelaskan hanya memaparkan data perbandingan. Tidak ada maksud menyudutkan seseorang

“Iya hanya untuk membandingkan saja, untuk komparasi. Saya kira itu tidak salah. Indeks tahun 2015 saya cek juga di internet. Jadi indeks 2015 mungkin lain dari sekarang, mungkin saja sekarang sudah ada kemajuan,” imbuh Khaidir.

Mungkin saya yang bodoh, tapi sepertinya tidak pernah ada hadis yang menyinggung soal ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Apalagi khotbah itu katanya berdasarkan kajian Alquran. Kok bisa kajian sebuah Alquran bisa menyasar ke pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Memang kalau sudah benci hingga ke ubun-ubun, logika langsung gosong dan dibuang. Khotbah yang seharusnya berlangsung sakral pun dicoreng dengan muatan politik.

Kalau hal ini dibiarkan, siap-siap nanti Pilpres akan banyak isi khotbah tentang ekonomi dan politik. Tapi, isinya dijamin akan menyudutkan Jokowi saja. Toh bagi kaum sebelah Jokowi itu semuanya salah.

Kita harap saja sang Khatib mendapatkan sanksi sosial yang keras. Masak Masjid dijadikan ajang berpolitik?

Detikiana.com tidak bertanggungjawab atas hak cipta dan konten/isi artikel ini serta tidak memiliki afiliasi dengan penulis. Untuk melihat sumber atau menghubungi penulis, dapat berkunjung ke situs seword.com

Source: seword.com
Labels: Ibadah Islam, Politik, Umat Islam

Thanks for reading Astaga...Ada Apa ini !! Khotbah Idul Adha Di Pondok Gede Menyinggung Politik. Nama Jokowi, SBY, Foke Dan Ahok Disebut. Please share...!

Back To Top