PagiPagi Online Dulu

PagiPagi Online Dulu

Beginilah Nasib Bocah Heroik Pemanjat Tiang Bendera di Belu, Atambua


Pagipagi.online - Masih ingat dengan bocah yang memanjat tiang bendera pada Upacara HUT RI 17 Agustus 2018 di Atambua? pasti semua pada tahu karena videonya cepat sekali tersebar (viral) dimedsos. Akibat tindakannya tersebut, bocah yang belakangan bernama Yohanis Gama Marschal mendapatkan simpatik luar biasa dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa sampai para pejabat di negeri ini. Apasajakah apresiasi buat bocah ini? berikut beberapa apresiasi yang diberikan kepada bocah tersebut:
 
Seperti dilansir di Detik.com, pihak PLN memberikan beasiswa sampai lulus S1 kepada Yohanis Gama Marschal.

"Aksi Yohanis sangat nasionalis sekali. Kami salut dengan anak ini. Mulai saat ini Yohanis menjadi 'Putra PLN' dan akan mendapatkan beasiswa sampai dengan tingkat S1," kata Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali, dalam keterangannya, Jumat (17/8/2019).

Menurut Ali, tindakan Yonahis patut dicontoh. Ali tinggal di kawasan perbatasan dengan Timor Timur yang memiliki rasa cinta kepada tanah air.

"Yohanis memiliki inisiatif yang tinggi, berani mengambil keputusan dalam waktu singkat, berani mengambil resiko, membanggakan dan bisa menjadi tauladan bagi generasi muda Indonesia," pungkas Ali.

Pihak PLN pun sudah mendatangi kediaman dari Yohanis. Termasuk bertemu dengan kedua orang tua Yohanis, Victorino Fahik Marschal dan Lorenca Gama.

"Mengabarkan bahwa anaknya akan mendapatkan beasiswa pendidikan hingga kuliah S1. Kelak besar nanti, Yohanis bercita-cita menjadi seorang tentara.

Selain itu, Yohanis Gama Marschal juga akan menjadi tamu kehormatan presiden dan menpora dalam acara pembukaan asian games yang berlangsung pada malam ini ((18/08/2018).

Panglima TNI juga telah memerintahkan jajarannya memprioritaskan Jhon sebagai prajurit TNI melalui jalur bintara atau akmil. demikian halnya dengan. 

Selain itu, Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea juga mengapresiasi aksi heroik yohanis dengan memberikan uang sebesar Rp. 25 juta, "untuk beli permen" selorohnya.

Viral Peserta Karnaval TK Bercadar dan 'Bersenjata' di Probolinggo

Karnaval anak-anak TK yang mengenakan jubah dan cadar memegang senjata mainan yang viral (Istimewa)
Pagipagi.online - Di Kota Probolinggo digelar pawai karnaval TK dan PAUD memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan RI. Pawai tersebut jadi viral di dunia maya karena salah satu peserta TK mengenakan jubah dan cadar sambil memegang senjata mainan.

Sejumlah warga menjepret dan mem-video kan anak-anak TK bercadar memegang senjata tersebut dan membagikannya ke media sosial. Dalam video itu terlihat rombongan peserta TK tersebut melintas. Di depan barisan ada dua anak TK menunggang kuda mainan.

Di belakangnya berbaris anak-anak TK lain. Mereka mengenakan jubah dan cadar berwarna hitam. Di tangan mereka terpegang senjata laras panjang yang terbuat dari kertas. Apa yang disuguhkan TK tersebut menjadi perbincangan di media sosial.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Muhammad Maskur mengaku sudah mengetahui informasi tersebut. "Dari 158 peserta, hanya satu peserta yang mengenakan jubah dan cadar yakni TK Kartika V 69," ujar Maskur kepada wartawan, Sabtu (18/8/2018).

Pawai karnaval TK dan PAUD se-Kota Probolinggo sendiri melintasi jalur protokol Kota Probolinggo, mulai Jalan Panglima Sudirman (depan Pemkot)-Jalan Suroyo-hingga Alun-alun Kota. 

sumber                

Singgung Anggaran Penelitian Rp 24 T, Jokowi: Apa Hasilnya?

Foto: Presiden Jokowi membuka sidang kabinet paripurna. (Andhika-detikcom)
Pagipagi.online - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung soal alokasi anggaran yang dinilai tidak dioptimalkan oleh masing-masing kementerian/lembaga (K/L) di Indonesia. Hal itu diungkapkannya pada saat membuka sidang kabinet paripurna yang membahas tentang ketersediaan anggaran dan pagu indikatif tahun 2019 serta prioritas nasional tahun 2019.

Jokowi menyinggung soal alokasi dana penelitian yang tersebar di masing-masing kementerian. Menurut dia, jika dikumpulkan jadi maka anggaran tersebut jumlahnya Rp 24,9 triliun.

"Anggaran yang ada ini tidak kita ecer-ecer. Kita ingin fokus mengarah, hasilnya menetas," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (9/4/2018).

Anggaran besar untuk penelitian, kata Jokowi saat ini tersebar di hampir semua kementerian. Menurut dia, hasilnya pun dari anggaran yang tersebar ini belum konkret.

"Anggarannya juga gede banget Rp 24,9 triliun, kalau nggak dikumpulkan ya tidak kelihatan, kalau dikumpulkan kelihatan," tutur dia.

"Ini bisa didesain, strategi besarnya apa, goal-nya apa, urusan durian misalnya, setelah penelitian segini, setelah keluar miliar duriannya seperti ini, jadi jelas, bukan penelitian untuk peneliti, apa hasilnya. Ini saya kira anggaran yang harus diprioritaskan untuk hal-hal strategis," sambung dia.

Selain anggaran penelitian, Mantan Wali Kota Solo ini juga menyinggung kembali anggaran pameran dan promosi produk lokal yang tersebar di 17 K/L. Jika digabungkan dalam satu wadah, maka anggaran tersebut dapat dioptimalkan untuk pembuatan pameran besar yang bisa mengangkat merek-merek lokal.

"Kalau diecer-ecer jadi kecil-kecil di 17 kementerian, kita mau bikin pameran yang gede juga nggak bisa, cuma pameran kecil, kita ikut di Dubai, di Koln, di Sanghai, di Amerika, pameran hanya 1-2 stand di dekat toilet untuk apa? malah menurunkan brand negara kita. Kalau dikumpulkan duitnya gede sekali," jelas dia.

Jokowi menyampaikan fokus pemerintah menggunakan anggaran di 2019 untuk investasi sumber daya manusia (SDM). Setelah pada awal pemerintahan kabinet kerja fokus pembangunan infrastruktur.

"Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya ingin mengarahkan agar kita masuk setelah tahapan besar pertama kita masuk ke tahapan besar kedua yaitu investasi di bidang sumber daya manusia, yang kita siapkan tahun ini programnya dan tahun depan benar-benar sudah masuk ke kegiatan besar sehingga politik alokasi APBN 2019 juga betul-betul mengarah ke sana. Betul-betul nampak untuk menopang mendukung pembangunan SDM," tutup dia. (ara/ara)

Kabar Gembira Bagi PNS! THR Tahun Ini Bakal Lebih Besar

Ilustrasi | sumber
Pagipagi.online - Pegawai negeri sipil (PNS) akan kembali mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) di 2018 ini. Selain PNS aktif, tahun ini THR juga akan diberikan kepada para pensiunan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Asman Abnur mengatakan selain itu, besaran THR untuk PNS aktif di tahun ini juga bakal lebih tinggi dibanding sebelumnya. Sebab, komponen tunjangan kinerja (tukin) juga bakal dimasukan dalam THR untuk PNS aktif tahun ini.

"Kita berikan THR ditambah lagi, dulu kan hanya gaji pokok, sekarang termasuk tukinnya, jadi tukin ditambah gaji pokok," kata Asman di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (9/4/2018).

Asman menjelaskan bahwa pencairan THR tersebut dilakukan sebelum lebaran atau hari raya Idul Fitri 2018 yang jatuh pada 15-16 Juni 2018. Waktu pencairan THR ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Waktunya sama seperti tahun lalu, jadi tidak ada perubahan.

Biasa kalau tahun lalu THR kan sebelum lebaran, kalau gaji ke-13 itu biasanya bulan Juni. Tepatnya saya nggak hafal," katanya.

"Yang jelas ini tidak ada perubahan dalam hal waktu, cuma dalam hal jumlah ada perubahan, yang dulu cuma berdasarkan jumlah gaji pokok tapi sekarang gaji pokok ditambah tukin," sambungnya.

Lebih lanjut Asman mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terkait dengan pencairan THR dan gaji ke-13 ini.

"Ini sudah kita koordinasikan ke Menteri Keuangan," tuturnya.

Sumber

Beginilah Klimaks Warga Kepada Hesti Karena Teguran Tak Ditanggapi


Pagipagi.online - Masih ingatkah Hesti berpakaian ala muslimah dan bercadar yang memelihara anjing dan sempat viral di media sosial? ini berita terbaru tentang Hesti.

Warga Perumahan Pondok Benda Residence, Pamulang, Tangerang Selatan menggeruduk rumah Hesti Sutrisno, muslimah pemelihara 11 anjing. Warga memprotes bau kotoran hewan peliharaan Hesti yang sudah sangat mengganggu warga.

Warga bertemu dengan keluarga Hesti. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan keluh kesah yang dirasakan karena banyaknya hewan peliharaan Hesti.

"Ibu (Hesti) enggak ngerti dengan keresahan warga di sini. Bau dari kotorannya itu benar-benar menyengat, Bu. Kita sudah kasih tahu dari dulu, belum lagi kalau anjingnya dilepas itu ganggu anak-anak di sini," keluh salah seorang warga, Ami, dengan nada meninggi.

Hesti Sutrisno merawat 11 anjing dan 20 kucing (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
Ami menambahkan, tiap malam selepas salat Magrib dan Isya putrinya bernama Syifa kerap dikejar-kejar anjing itu. Sesampainya di rumah, Syifa menangis.

"Karena kalau sore anjingnya dilepas bergantian. Kita sudah beberapa kali negur, diingetin juga, tetap saja anjingnya dilepas lagi," tutur Ami (38), warga yang tinggal di Blok A2 Nomor 8, Pondok Benda Residence.

Warga lainnya, Damayanti mengatakan, dirinya sangat menghormati kepedulian Hesti dalam memelihara anjing. Tapi, di sisi lain, Hesti harus memikirkan warga sekitar yang terganggu dengan bau kotoran hewan peliharaan itu.

"Ini sudah klimaks, karena sebelum-sebelumnya enggak pernah ditanggapi teguran kita," terang Damayanti.

Negosiasi akhirnya dilakukan oleh warga, keluarga Hesti, LSM Garda Satwa Indonesia, yang dimediasi oleh Ketua RT setempat Hasyim Maskur. Akhirnya, disepakati 7 dari 11 anjing milik Hesti dipelihara LSM. Lalu 32 kucing tetap berada di rumah dengan syarat tak boleh ke luar rumah.


Viral, Pengemudi Ojek "Online" ini Dipaksa Nikahi Penumpang Wanita

Sadarul, seorang pria yang dipaksa menikah oleh seorang wanita yang minta diantarnya di Makassar, Sulawesi Selatan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Viral, Pengemudi Ojek "Online" Dipaksa Nikahi Penumpang Wanita", https://regional.kompas.com/read/2018/03/22/07121361/viral-pengemudi-ojek-online-dipaksa-nikahi-penumpang-wanita.
Penulis : Kontributor Makassar, Hendra Cipto
 || Kompas.com
Pagipagi.online - Kabar seorang pengemudi ojek online di Makassar, Sulawesi Selatan, dipaksa menikahi penumpang wanitanya viral di media sosial. Adalah Sadarul (21) yang disebut sebagai pengemudi ojek online. 

Saat dikonfirmasi, Sadarul membantah bahwa dirinya bukanlah pengemudi ojek online. Namun, kejadian dirinya dipaksa untuk menikahi perempuan yang diboncengnya adalah benar dialaminya.

Sadarul mengatakan, hari itu, Rizal, temannya yang adalah pengemudi ojek online menghubunginya. Rizal minta tolong untuk mengantarkan teman wanitanya yang bernama Amelia Dewi. Dia pun menyanggupi lalu menjemput Amelia di Jalan Hertasning yang tak jauh dari rumah kosnya. 

Saat bertemu, Amelia meminta mampir dulu ke rumah kos Sadarul di Jalan Emisaelan untuk minum air putih karena kehausan. Dia mengaku baru saja selesai berolahraga. Tanpa curiga, Sadarul membawa Amelia ke rumah kosnya yang memang tak jauh dari lokasi jemputannya. 

"Jadi baru sehari sudah ketemu, besoknya Amelia datang lagi ke rumah kos dan memaksa saya mengantarkan dirinya untuk jalan-jalan. Tapi saya tidak bisa karena saya baru tiba dari kampung di Kabupaten Takalar," kata Sadarul. 

Dengan alasan kelelahan habis perjalanan jauh, Sadarul menolak ajakan Amelia. Tetapi, Amelia tetap memaksa, bahkan nekat menunggu di depan pintu pagar rumah kos. Sadarul mulai curiga. "Bukan saya saja yang resah, tapi penghuni kos lainnya. 

Amelia memaksa mau masuk, tapi tidak diperbolehkan. Dia sempat memanjat pagar dan melempari kaca jendela kamar kos. Tapi kami semua diamkan saja sampai dia tertidur di depan pintu pagar," tuturnya. 

Keesokan harinya pun, lanjut Sadarul, Amelia tetap masih menunggu di depan rumah kos. Akhirnya, Sadarul menghubungi kembali rekannya, Rizal, agar datang menjemput temannya itu. "Tapi, Rizal tidak mau datang, sampai akhirnya Amelia memaksa diantarkan ke Departemen Agama di Jalan Rappocini. Agar masalah selesai, saya antar dia ke Departemen Agama. 

Ternyata, Amelia meminta dinikahi. Saya pun menolak dan warga banyak berdatangan saat saya terlibat cekcok. Saya pun meminta warga agar mengamankan Amelia sambil menunggu polisi datang," ungkapnya.

Aparat kepolisian pun datang menjemput Sadarul dan Amelia. Keduanya lalu dibawa ke Markas Polsekta Rappocini untuk dimintai keterangan. "Saat di Polsekta Rappocini, keponakan Amelia datang menjemput tantenya itu. Keponakan Amelia mengaku, tantenya mengalami kelainan jiwa. Masalah pun selesai dan saya cabut laporan," ungkapnya.

Tanpa tak disangka, keesokan harinya Amelia datang lagi bersama anggota Polsekta Panakukang. Di situ, Sadarul dituduh telah melakukan pemerkosaan. Namun, setelah diselidiki oleh aparat kepolisian, laporan Amelia adalah palsu. 

"Saya sempat kaget, termasuk juga dengan penghuni rumah kos lainnya. Teman-teman kos bilang, kita dapat masalah besar ini dituduh melakukan pemerkosaan. Tapi saat di Polsekta Panakukang, ada seorang polwan yang mengenali Amelia. Polwan itu pernah menangani kasus Amelia dengan laporan yang sama. Polwan itu pun menegaskan bahwa Amelia mengidap gangguan kejiwaan," ungkapnya.


Ingin buktikan tuhan itu nyata wanita ini tabrakkan mobil ke tiang

Bakari Warren, perempuan yang menabrakkan mobil hanya untuk memberi tahu anak-anaknya bahwa Tuhan itu ada.(Oddity Central/Norcross Police Department)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ingin Buktikan Tuhan Itu Nyata, Wanita Ini Tabrakkan Mobil ke Tiang", https://internasional.kompas.com/read/2018/03/27/14403621/ingin-buktikan-tuhan-itu-nyata-wanita-ini-tabrakkan-mobil-ke-tiang.
Penulis : Ardi Priyatno Utomo
 Editor : Ardi Priyatno Utomo. Kompas.com)
Pagipagi.online - Seorang wanita di Georgia, Amerika Serikat ( AS) dijebloskan ke penjara setelah menabrakkan mobil jenis SUV ke tiang beton. Dalam rekaman CCTV jalan, Bakari Warren awalnya mengemudi ke arah Peachtree Industrial Boulevardi Gwinnett County, sebelum tiba-tiba berbelok dan menghantam tiang beton.

Dilansir Oddity Central Senin (26/3/2018), kedua anaknya yang berusia 5 dan 7 tahun, duduk di kursi belakang, selamat tanpa mengalami luka sedikitpun.

Lantas, apa yang membuat Warren melakukan aksi senekat itu? Diinterogasi Kepolisian Norcross, perempuan 25 tahun itu ingin menunjukkan ke anak-anaknya bahwa Tuhan itu nyata. Pengakuan Warren didukung oleh anaknya. Mereka berdua berkata, ketika mengemudikan mobilnya, Warren dilaporkan menutup mata. "Ibu berkata 'bla bla bla, saya mencintai Tuhan'. Dia bilang, Tuhan akan menyelamatkan kami jika percaya kepada-Nya," ujar putri Warren yang tidak disebutkan identitasnya itu.

Meski begitu, dalam pembelaannya, Warren bersikeras kalau dia telah meminta anaknya untuk mengencangkan sabuk pengamannya sebelum menaikkan kecepatan mobil. Tetap saja, polisi tidak bisa melihat alasan itu meringankan Warren. Dia tetap dipenjara, dan baru bisa bebas dengan jaminan 22.000 dolar AS, sekitar Rp 301,8 juta. Sersan Polisi Norcross Eric Butynski mengaku tidak bisa memahami jalan pikiran Warren. "Bisa saja mereka berakhir lebih buruk," katanya dilansir WSB. Baca juga : Keterlambatan Kereta di Sydney Disebut Takdir Tuhan


PSHK Minta Kemendagri Terbitkan Permendagri Baru Gantikan Aturan Soal Penelitian

Mendagri Tjahjo Kumolo (Foto: Usman Hadi/detikcom)
Pagipagi.online - Peraturan Menteri Dalam Negeri ( Permendagri) Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penerbitan Surat Keterangan Penelitian (SKP) akhirnya dibatalkan.
Pembatalan Permendagri yang menggantikan Permendagri Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 tentang Pedoman Penerbitan Rekomendasi Penelitian tersebut pun tak luput dari kritik.
"Pernyataan Mendagri bahwa Permendagri tersebut 'pada prinsipnya dibatalkan dan kembali ke peraturan lama' untuk kemudian 'di-update dan diperbaiki setelah menerima masukan dari akademisi, lembaga penelitian dan DPR' ini menimbulkan persoalan baru dalam konteks peraturan perundang-undangan," ujar Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan ( PSHK) Rizky Argama dalam keterangan tertulis, Kamis (8/2/2018).


Sebab, kata Rizky, Permendagri itu telah selesai disusun, disahkan, dan kemudian dicantumkan dalam Berita Negara. Bahkan, Permendagri itu juga sudah resmi dipublikasikan dalam situs Direktur Jenderal Perundang-undangan di Kementerian Hukum dan HAM.
Karenanya, apabila dibatalkan, maka Mendagri Tjahjo Kumolo seharusnya membentuk Permendagri baru untuk membatalkan Permendagri Nomor 3 Tahun 2018 tersebut.
"Penggunaan kalimat 'pada prinsipnya dibatalkan' tidak dapat membatalkan secara otomatis suatu peraturan yang sudah disahkan. Frasa 'pada prinsipnya dibatalkan' juga menimbulkan kerancuan dan berdampak menimbulkan ketidakpastian hukum," kata dia.
Tak cuma itu, menurut Rizky, pembentukan regulasi pada satu sektor pemerintahan harus merujuk atau menyesuaikan dengan tugas dan fungsi dari Kementerian/Lembaga pembentuknya.
Dalam hal ini, sektor penelitian atau riset adalah tugas dan fungsi dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2015, bukan tugas dan fungsi dari Kemendagri.
"Jadi pengaturan ijin penelitian di bawah Kemendagri menunjukkan adanya kerancuan dan tumpang tindih dalam menjalankan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga didalam pemerintahan," kata dia.
Secara substansi, Permendari tersebut berpotensi justru menghambat pertumbuhan penelitian yang sedang didorong oleh Kemenristekdikti, sehingga kebijakan antar kedua Kementerian itu harus mampu diselaraskan.


"Seharusnya secara tegas tugas mengenai riset adalah tugas dan fungsi dari Kemenristekdikti," ucap Rizky.
"Kerancuan atau tumpang tindih tugas dan fungsi dalam bidang riset, serta lemahnya argumentasi pentingnya pengaturan mengenai perijinan riset oleh Kemendagri harus segera berakhir," kata dia.
Rizky pun berharap, dibatalkanya aturan terbaru tentang pengaturan perijinan penelitian oleh Kemendagri tersebut, akan menjadi satu langkah awal untuk penelitian Indonesia yang lebih baik.
"Sudah cukup lama penelitian dan inovasi terhambat, bahkan tertinggal dari negara lain," kata Rizky.
Ia pun juga mendesak, Kemenristekdikti harus menjadi inisiator dalam setiap kebijakan terkait dengan riset dengan mempertimbangkan perkembangan penelitian di Indonesia.
"Pemerintah wajib melibatkan masyarakat dalam pembentukan setiap kebijakan yang mengikat secara umum," ungkap Rizky.

Sumber

Ini Pengakuan Mendagri Terkait Penelitian yang Menuai Banyak Kritik

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo Ketika Ditemui Dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Jakarta, Kamis (1/6/2017).(KOMPAS.com/ MOH NADLIR)
Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo mengakui bahwa penyusunan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penerbitan Surat Keterangan Penelitian (SKP) tak melibatkan para peneliti.

Kata Soedarmo, pihaknya hanya melibatkan kementerian/lembaga terkait saja.

Seperti Kementerian Luar Negeri, Kemenristek Dikti, Kemenkumham, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

“Jadi itu kekurangan dalam membuat Permendagri ini. Ini narasumbernya sudah lengkap juga sebetulnya. Ini hanya sedikit itu saja (dampak negatif),” ujar Soedarmo di kantor Kemendagri, Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Bahkan kata Soedarmo, Permendagri itu pun belum sempat disosialiasikan hingga akhirnya sudah dipersoalkan oleh khalayak.

“Hanya memang, ini kan baru tanggal 11 Januari. Kita belum sosialisasikan. Ada persepsi yang berbeda-beda. Biasalah. Kalau ini kita sosialisasikan lalu banyak masukan ya kita revisi. Enggak ada masalah kok. Permendagri ini bukan sakral,” tutur Soedarmo.

Soedarmo pun meminta agar polemik ini tak lagi dibesar-besarkan. Sebab, niat pemerintah pada dasarnya baik untuk mempermudah pelayanan dalam penerbitan SKP bagi para peneliti.
“Enggak perlu kita besar-besarkan persoalan ini. Ini hanya karena kita belum sosialisasi menjadi sesuatu yang luar biasa," ujar Soedarmo.

"Kita ingin memberikan pelayanan yang terbaik, yang tercepat bagi peneliti itu sendiri. Sebetulnya semangatnya ke sana. Cuma kita lupa sedikit memperjelas tentang dampak negatif, itu saja,” lanjutnya.

Diketahui, pemerintah mengeluarkan Permendagri tersebut untuk mengatur rencana pelaksanaan penelitian di seluruh wilayah Indonesia.

Tujuan diterbitkan SKP itu sebagai bentuk tertib administrasi dan pengendalian pelaksanaan penelitian dalam rangka kewaspadaan terhadap dampak negatif yang diperkirakan akan timbul dari proses penelitian.

Sayangnya, tak dijelaskan lebih lanjut soal ukuran dampak negatif tersebut. Hal ini lah yang memicu penolakan publik.

SKP nantinya tidak akan diterbitkan jika instansi terkait menganggap penelitian yang akan dilakukan punya dampak negatif.

Padahal, dalam Permendagri terdahulu, Kemendagri hanya akan menolak menerbitkan SKP jika peneliti tidak mendapat tanda tangan dari pimpinan yang bersangkutan.


Mengejutkan...!!! Sapi Melahirkan Kura-Kura, kok bisa

Anak Kura-kura yang keluar dari rahim seekor sapi
Pagipagi.online - Kun Fayakun “Jadi Maka Jadilah”. Sepenggal kalimat ini mungkin patut kita lontarkan untuk fenomena aneh yang terjadi di desa Hutabohu Kecamatan Limboto Barat. Dimana, pada Senin kemarin mereka dihebohkan dengan seekor sapi betina yang melahirkan kura-kura.

Menurut Rimin Nggadu, semula tidak ada yang ganjil dari proses persalinan sapi miliknya tersebut. Dimana pada senin malam tepat pukul 20.00 wita sapi miliknya melahirkan satu ekor anak sapi. Setelah ia amati, ternyata pada tubuh anakan sapi yang keluar dari rahim induknya itu ikut juga satu ekor Kura-kura. Hal ini spontan membuat ia kaget dan langsung memanggil istri serta beberapa tetangga untuk menyaksikan peristiwa unik ini.

“Pas saya dapalia kura-kura itu batempel di pusar anak sapi yang pas dilahirkan.” Terang Rimin. Sontak hal ini langsung membuat heboh warga sekitar yang langsung berdatangan untuk menyaksikan kejadian unik tapi nyata tersebut.

Camat Limbar, Hasni D. Lamanasa saat di wawancarai oleh RadarGorontalo.com dilokasi peristiwa mengatakan, hal unik ini adalah bukti kebesaran Allah SWT. Dimana segala sesuatu yang dianggap tidak mungkin oleh manusia, tapi jika Ia berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.

“Ini sebagai bukti tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Apa yang terjadi adalah kehendakNya.” Tutur Camat Limbar, sembari berharap kepada warga untuk tidak mengkait-kaitkan peristiwa ini dengan hal-hal mistis, apalagi membuat warga ataupun pemilik sapi menjadi syirik.

Saat ini kura-kura dan anak sapi yang baru saja dilahirkan itu dalam keadaan sehat, dan bagi pemiliknya kura-kura di rawat didalam rumah dan diberi makan sayur sayuran. (RG-52)

Back To Top